Kamis, 27 Desember 2012


          Manusia & lingkungan hidup



BIO-H132
Manusia dan lingkungan hidup
Masalah lingkungan semakin lama semakin besar, meluas, dan serius. Ibarat bola salju yang menggelinding, semakin lama semakin besar. Persoalannya bukan hanya bersifat lokal atau translokal, tetapi regional, nasional, trans-nasional, dan global. Dampak-dampak yang terjadi terhadap lingkungan tidak hanya terkait pada satu atau dua segi saja, tetapi kait mengait sesuai dengan sifat lingkungan yang memiliki multi mata rantai relasi yang saling mempengaruhi secara subsistem. Apabila satu aspek dari lingkungan terkena masalah, maka berbagai aspek lainnya akan mengalami dampak atau akibat pula.


Pada mulanya masalah lingkungan hidup merupakan masalah alami, yakni peristiwa-peristiwa yang terjadi sebagai bagian dari proses natural. Proses natural ini terjadi tanpa menimbulkan akibat yang berarti bagi tata lingkungan itu sendiri dan dapat pulih kemudian secara alami (homeostasi).
Akan tetapi, sekarang masalah lingkungan tidak lagi dapat dikatakan sebagai masalah yang semata-mata bersifat alami, karena manusia memberikan faktor penyebab yang sangat signifikan secara variabel bagi peristiwa-peristiwa lingkungan. Tidak bisa disangkal bahwa masalah-masalah lingkungan yang lahir dan berkembang karena faktor manusia jauh lebih besar dan rumit (complicated) dibandingkan dengan faktor alam itu sendiri. Manusia dengan berbagai dimensinya, terutama dengan faktor mobilitas pertumbuhannya, akal pikiran dengan segala perkembangan aspek-aspek kebudayaannya, dan begitu juga dengan faktor proses masa atau zaman yang mengubah karakter dan pandangan manusia, merupakan faktor yang lebih tepat dikaitkan kepada masalah-masalah lingkungan hidup.

Oleh karena itu, persoalan-persoalan lingkunganm seperti kerusakan sumber daya alam, penyusutan cadangan-cadangan hutan, musnahnya berbagai spesies hayati, erosi, banjir, bahkan jenis-jenis penyakit baru yang berkembang terakhir ini, diyakini merupakan gejala-gejala negatif yang secara dominan bersumber dari faktor manusia itu sendiri. jadi, beralasan jika dikatakan, di mana ada masalah lingkungan maka di situ ada manusia.


Terhadap masalah-masalah lingkungan seperti pencemaran, banjir, tanah longsor, gagal panen karena hama, kekeringan, punahnya berbagai spesies binatang langka, lahan menjadi tandus, gajah dan harimau mengganggu perkampungan penduduk, dan lain-lainnya, dalam rangka sistem pencegahan (preventive) dan penanggulangan (repressive) yang dilakukan untuk itu, tidak akan efektif jika hanya ditangani dengan paradigma fisik, ilmu pengetahuan dan teknologi, atau ekonomi saja. Tetapi karena faktor tadi, paradigma solusinya harus pula melibatkan semua aspek humanistis. Maka dalam hal ini, peran ilmu-ilmu humaniora seperti sosiologi, antropologi, psikologi, hukum, kesehatan, religi, etologi, dan sebagainya sangat strategis dalam pendekatan persoalan lingkungan hidup.
(Nommy Horas Thombang Siahaan, Indonesia, Hukum Lingkungan dan Ekologi Pembangunan)


Hubungan manusia dan lingkungan hidup
Manusia mendapatkan unsur-unsur yang diperlukan dalam hidupnya dari lingkungan. Makin tinggi kebudayaan manusia, makin beraneka ragam kebutuhan hidupnya. Makin besar jumlah kebutuhan hidupnya berarti makin besar pula perhatian manusia terhadap lingkungannya.
Perhatian dan pengaruh manusia terhadap ligkungan makin meningkat pada zaman teknologi maju. Masa ini manusia mengubah lingkungan hidup alami menjadi lingkungan hidup binaan. Eksplotasi sumber daya alam makin meningkat untuk memenuhi bahan dasar industri. Sebaliknya hasil industri berupa asap dan limbah mulai menurunkan kualitas lingkungan hidup.


Berdasarkan sifatnya, kebutuhan hidup manusia dapat dilihat dan dibagi menjadi 2, yaitu kebutuhan hidup materil antara lain adalah air, udara, sandang, pangan, papan, transportasi sera perlengkapan fisik lainnya. Dan kebutuhan nonmateril adalah rasa aman, kasih sayang, pengakuan atas eksistensinya, pendidikan dan sistem nilai dalam masyarakat.
Manusia merupakan komponen biotik lingkungan yang memiliki daya fikir dan daya nalar tertinggi dibandingkan makluk lainnya. Di sini jelas terlihat bahwa manusia merupakan komponen biotik lingkungan yang aktif. Hal ini disebabkan manusia dapat secara aktif mengelola dan mengubah ekosistem sesuai dengan apa yang dikehendaki. Kegiatan manusia ini dapat menimbulkan bermacam-macam gejala sebagai konsekuensinya.

Minggu, 23 Desember 2012


Keterampilan Dasar Mengajar: Membimbing Diskusi Kelompok Kecil

Dalam setiap proses pembelajaran yang dilakukan, keterlibatan siswa merupakan hal yang sangat penting diperhatikan oleh guru. Upaya yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan menerapkan keterampilan dalam membimbing diskusi kelompok kecil.
Selain bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, ada alasan lain pentingnya menerapkan/mengamalkan diskusi kelompok. Yang pertama adalah, secara langsung siswa diajak mempraktekkan nilai Pancasila sila ketiga yang mengisyaratkan bahwa musyawarah dan mufakat untuk mengambil suatu keputusan merupakan ciri khas kehidupan bangsa Indonesia.
Kedua, diskusi kelompok di dalam kelas berkaitan dengan pendekatan PAKEM. Dengan pendekatan ini sebiknya dominasi guru di dalam kelas dikurangi sehingga siswa berkesempatan untuk berpartisipasi secara lebih aktif. Tujuan pembelajaran dalam lingkup nilai dan sikap secara efektif akan tercapai melalui diskusi kelompok.
Perlu diperhatikan bahwa tidak semua pembicaraan yang dilakukan oleh sekelompok orang disebut diskusi. Wardani dan Julaiha (2007) mengemukakan bahwa ada syarat yang harus dipenuhi agar disebut diskusi kelompok kecil, yaitu:
1.       Melibatkan kelompok orang yang terdiri dari 3-9 orang;
2.       Berlangsung dalam tatap muka informal dimana semua anggota kelompok berkesempatan saling melihat, mendengar, serta berkomunikasi bebas dan langsung;
3.       Ada tujuan yang mengikat anggota untuk bekerja sama mencapainya;
4.       Berlangsung dengan proses yang teratur dan sistematis.
Dalam proses pembelajaran, diskusi kelompok kecil juga harus memenuhi keempat syarat di atas.
Lalu, apakah yang dimaksud dengan diskusi kelompok kecil?
Diskusi kelompok kecil adalah suatu proses percakapan (komunikasi) yang teratur, yang melibatkan sekelompok orang dalam interaksi tatap muka yang bebas dan terbuka, dengan tujuan berbagi informasi atau pengalaman, mengambil keputusan, atau memecahkan suatu masalah (Mulyasa, Hasibuan dalam Suwarna,2006:79).
Apa pula yang dimaksud dengan keterampilan dasar mengajar membimbing diskusi kelompok kecil? Keterampilan dasar mengajar membimbing diskusi kelompok kecil ialah keterampilan melaksanakan kegiatan membimbing siswa agar dapat melaksanakan diskusi kelompok kecil dengan efektif (Suwarna,2006:79).

Download Disini : Filenya

Jumat, 07 Desember 2012

Contoh Proposal Usaha


PROPOSAL USAHA
TELA-TELA “PEMILIK HATI”
tela-tela-fried-cassava-4-300x199.jpg







                                 





Diajukan kepada :    
                                   RAMAYANA DEPARTEMEN STORE   


Tela-tela “Pemilik Hati”
Jln. Jend. A. Yani ( Lingkungan Taman Kota Baturaja
No tlp : +628123101993
Email : Tela-Telaku.com
Tela-Tela Pemilik hati

A.   Profil Usaha
            Usaha makanan merupakan salah satu potensi besar dalam wirausaha dengan berbagai menu yang disajikan dan tumbuh kembang kuliner yang sangat pesat. Di Indonesia kebutuhan akan usaha makanan jajanan kuliner sangat berpotensi besar, dikarenakan konsumsi akan makanan cukup tinggi.
Seiring dengan perkembangan zaman dan lingkungan, maka orang sekarang mulai berhati-hati dalam memilih dan membeli sesuatu. Salah satu hal dimana orang sangat hati-hati dan teliti sekali dalam memilih dan membeli adalah ketika manusia membeli makanan.
Masyarakat sekarang lebih cenderung ingin memakan makanan yang enak tetapi murah dan mudah mendapatkan makanan itu. Oleh karena itu Tela-Tela merupakan alternatif utama dalam  memilih makanan yang Murah dan mudah namun tidak membahayakan kesehatan dari konsumen.
Dari fenomena diatas maka sangat cocok dan potensial bila kita mendirikan  Usaha Tela-Tela, dimana dari segi rasa memenuhi konsumen yaitu enak, dari segi Tela-Tela masih mengandung protein. Dari segi harga cukup terbilang mudah  dijangkau oleh semua lapisan masyrakat.  
           Alasan mengapa kami mengambil usaha tela-tela pemilik hati berdasarkan atas pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:
1.      Tela-Tela mudah didapatkan didaerah-daerah yang ada disekitar kota baturaja
2.      Tela-Tela merupakan menu jajanan yang banyak digemari oleh semua kalangan
3.      Bahan-bahan, Pembuatan, manfaat, cara produksi, dan pemasarannya cukup mudah.







B.   Kebutuhan Modal Awal  ( Biaya Tetap )

Keterangan
Harga
Tempat Berjualan ( Gerobak )
Rp. 1.500.000
Alat-Alat Mengolah Singkong
Rp. 1.000.000
Membeli Kompor & Gas
Rp.    300.000
Membuat Sticker Pemasaran
Rp.      75.000
Membuat Spanduk Daftar Harga
Rp.    150.000
Total
Rp. 3.025.000

C.   Kebutuhan Mingguan ( Biaya Variabel )
Keterangan
Harga
Membeli Bumbu Tabur 3kg/rasa
Rp. 300.000
Membeli Singkong 50 kg
Rp.   60.000
Membeli Kentang 50 kg
Rp. 100.000
Membeli Kotak Tela-Tela
Rp.   70.000
Membeli gas elpiji
Rp. 15.000
Total
Rp. 545.000

       Maka pengeluaran kebutuhan mingguan selama 1 bulan adalah Rp . 545.000 x 4 = 2.180.000

D.   Kebutuhan /1hari
           
Keterangan
Biaya
Membayar Gaji Tenaga Kerja /hari
Rp. 15.000
Total
Rp. 15.000

o   Maka pengeluaran biaya untuk membayar gaji pegawai selama 1 bulan ialah = Rp.15.000 x 30 hari = Rp. 450.000
o   Jadi jumlah total pengeluaran selama 1 bulan dari kebutuhan mingguan dan harian adalah = Rp. 2.180.000 + Rp. 450.000 = Rp. 2.630.000
E.   Perkiraan Pendapatan

1.      Pendapatan Per-hari
-          Diperkirakan setiap hari mampu menjual 50 kotak tela-tela
-          Maka pendapatan kita perhari : 50 X harga Rp. 3000 = Rp. 150.000 ( itu bila harga tela-tela yang terjual dengan harga terendah )

2.      Pendapatan Per-bulan
-        Diperkirakan setiap hari mampu menjual 50 kotak tela-tela.
-        Maka selama 1 bulan tela-tela yang terjual diperkirakan : 50 x 30hari = 1.500 kotak tela-tela
-        Pendapatan kotor selama 1 bulan ( dari harga tela-tela terendah )  1.500 x 3.000 = Rp. 4.500.000
-        Pendapatan bersih selama 1 bulan = Pendapatan kotor – Pengeluaran Biaya = Rp. 4.500.000 ­– Rp. 2.6300.000 = Rp. 1.870.000

3.      Pendapatan Per-Tahun
-        Pendapatan bersih selama 1 tahun = pendapatan bersih dalam 1 bulan x dengan jumlah bulan per-tahun = Rp. 1.870.000 x 12 = Rp. 2.24.400.000

Padahal dalam sehari tela-tela yang terjual tidak selamanya index harga rendah. index harga tela-tela yang terjual brevariasi sesuai dengan permintaan pembeli rasa apa yang pembeli inginkan. Sehingga bukan tak mungkin pendapatan bersih kita selama 1 bulan bisa mencapai lebih dari Rp. 1.870.000




F.    Jenis-Jenis Menu Yang Di Tawarkan
No
Rasa
Harga
1
Tela-Tela Singkong Keju
Rp. 3000 / kotak
2
Tela-Tela Kentang Keju
Rp. 5000 / kotak
3
Tela-Tela Singkong Balado
Rp. 3000 / kotak
4
Tela-Tela Kentang Balado
Rp. 5000 / kotak
5
Tela-Tela Singkong Super Pedas
Rp. 3000 / kotak
6
Tela-Tela Kentang Super Pedas
Rp. 5.000 / kotak
7
Tela-Tela Singkong Pedas Manis
Rp. 3000  / kotak
8
Tela-Tela Kentang Pedas Manis
Rp. 5000 / kotak
9
Tela-Tela Kentang Nugget
Rp. 6000 / kotak
10
Tela-Tela Kentang / Singkong + Saus Kecap
Rp. 7000 / Porsi


G.  Analisis Titik Impas
Dalam menghitung analisis titik impas ini kita terlebih dahulu menentukan jumlah total  investasi awal.
Investasi awal : Jumlah Biaya Tetap + Jumlah Biaya Total Variabel : Rp. 3.025.000,- + Rp.2.570.000,- = Rp.5.595.000,-
Kemudian setelah diketahui jumlah total nilai investasi awal maka selanjutnya kita menentukan pendapatan bersih setiap bulan nya .Disini kita menggunakan nilai pendapatan bersih terendah setiap bulan yaitu Rp. 1.870.000,-
Maka titik balik modal kita akan terjadi pada bulan ke : Pendapatan Bersih PerBulan – Investasi awal = Rp. 1.870.000,- 5.595.000,- = 3,4 bulan ~ 4  bulan.
Dari hasil diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa kita akan balik modal pada bulan ke 4, jika pendapatan kita per bulan nya adalah Rp.1.930.000,-. Padahal pendapatan tersebut terjadi jika selama satu bulan tela-tela yang terjual adalah tela-tela dengan harga terendah yaitu Rp. 3.000,- sedangkan dalam setiap penjualan tentu tela-tela yang terjual adalah dengan harga yang bervariasi sesuai dengan daftar harga yang tertera. Jadi bukan tidak mungkin kita akan balik modal lebih cepat dari 4 bulan.

H.  Tenaga Kerja
          Dalam bisnis jualan tela-tela ini kita tidak memerlukan sumber daya manusia yang harus ahli dan mempunyai skill yang khusus seperti :sarjana dll, akan tetapi yang diperlukan adalah orang yang mau bekerja secara tekun (telaten), sabar, kerja keras dan tidak gengsi (karena ini merupakan pekerjaan remeh menurut pandangan masyarakat tertentu).
I.      Lokasi
System jualan Tela-Tela ini adalah dapat pemasukan bila ada pembeli maka lokasi yang paling bagus adalah ditempat yang banyak dilalui orang (banyak orang yang melakukan aktifitas) seperti di depan toko (supermarket), di perempatan atau pertigaan jalan  di baturaja itu sendiri yaitu yang paling stategis di taman kota, dll. Untuk lokasi yang sudah kami dapatkan yaitu di Lingkungan Taman Kota, lokasi cukup bagus karena di pinggir jalan dan memang selalu ramai akan orang-orang dari anak-anak sampai Lansia.
J.     Pesaing
            Untuk pesaing, memang telah banyak pesaing-pesaing namun kami yakin dengan pelayanan serta rasa yang khas dari penjualan tela-tela kami. Kami tidak perlu merasa berkecil hati akan hal itu.

K.  Strategi Pemasaran
            Untuk memasarkan produk Tela-Tela kami membuat sejenis brosur dan membagikan kepada khalayak atau pinggir jalan raya dan juga  mengandalkan promosi lewat orang (dari mulut ke mulut)

L.    Faktor-Faktor dalam penjualan Tela-Tela ini adalah :
1.     Cuaca
·         Bila hujan turun maka orang malas keluar rumah sehingga pembeli tidak begitu banyak
2.     Keadaan Ekonomi Masyarakat Sekitar
·         Bila musim akhir bulan maka pembeli tidak begitu banyak (jarang), namun bila awal bulan maka biasa nya pembeli ramai.
·         Bila harga sembako naik walaupun hanya sedikit, kadang bisa mengurangi pembeli.

Apabila faktor-faktor tersebut benar-benar mempengaruhi dalam jualan tela-tela, kita masih bisa mendapat untung sekitar Rp.± 1.500.000,- satu bulan.

M. Analisis SWOT

a.     Kelebihan
Kelebihan dari usaha tela-tela kami ini dari penampilan,cita rasa,dan mempunyai harga yang sangat istimewa karena mudah terjangkau dan kami juga siap antar .
b.    Kekurangan
Kekurangan kami belum mempunyai tempat yang tetap.
c.      Peluang
Banyak peluang untuk orang yang membutuhkan pekerjaan karena kami tidak membutuhkan pegawai dengan ijazah tertentu tetapi kami hanya membutuhkan pegawai yang benar-benar mau bekerja dengan sepenuh hati karena membuat makanan kalau tidak pakai hati nanti hasilnya tidak bagus yaitu tidak lezat
d.    Ancaman
Ancaman yang ada dalam usaha kami  yaitu kenaikan harga bahan pokok usaha kami yakni bumbu dan kentang serta singkong dan juga adanya banyak pesaing.






N.   Contoh menu tela-tela

NUGGET TELA.jpg














Disusun Oleh Kelompok : 2 ( dua )

Nama   :        1. Firman Tohiri     11 22 070
                        2. Yeni Indraswari  11 22 062
                        3. Mariska Aryanti  11 22 056

Proposal Usaha : Makanan ( Kuliner )

Judul Proposal :  Tela-Tela “Pemilik Hati”

Alamat Usaha :  Jln. Jend. A. Yani (Lingkungan Taman Kota  
        Baturaja)